Penguatan Budaya Sekolah Aman, Anak Nyaman, dan Prestasi Meningkat Melalui Edukasi Anti-Bullying di SMAN 2 Praya Lombok Tengah
DOI:
https://doi.org/10.67548/jocepass.v1i4.336Keywords:
Sekolah Ramah Anak, Kepedulian Sosial , Pendidikan Karakter , Anti-Bullying , Budaya Sekolah Aman , Child-Friendly School, Social Awareness , Character Education, Safe School CultureAbstract
Abstrak: Sekolah merupakan lingkungan strategis dalam membentuk karakter, kompetensi sosial, dan pencapaian akademik peserta didik. Namun, perundungan masih menjadi tantangan dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan ramah anak. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memperkuat budaya sekolah aman, anak nyaman, dan prestasi meningkat melalui edukasi anti-bullying di SMAN 2 Praya, Lombok Tengah. Mitra sasaran adalah SMAN 2 Praya, yang memiliki sekitar 757 peserta didik. Kegiatan sosialisasi dilaksanakan dalam rangkaian kajian rutin/IMTAK sekolah dengan sasaran peserta didik yang mengikuti kegiatan tersebut. Metode yang digunakan meliputi pendekatan edukatif, partisipatif, preventif, dan reflektif melalui tahapan persiapan, penyusunan materi, sosialisasi, diskusi interaktif, studi kasus, refleksi, simulasi respons terhadap perundungan, dan evaluasi. Data diperoleh melalui observasi, dokumentasi, refleksi peserta didik, dan umpan balik pihak sekolah. Hasil kegiatan menunjukkan penguatan pemahaman peserta didik mengenai perundungan verbal, fisik, sosial, dan digital, termasuk dampaknya terhadap kesejahteraan psikologis, hubungan sosial, dan proses pembelajaran. Kegiatan ini juga membantu peserta didik membedakan candaan, konflik, dan perundungan serta mendorong keberanian melapor dan berpartisipasi dalam pencegahan. Penguatan budaya sekolah aman memerlukan kolaborasi kepala sekolah, guru, guru bimbingan dan konseling, peserta didik, orang tua, dan seluruh warga sekolah. Dengan demikian, edukasi anti-bullying berpotensi menjadi strategi penguatan pendidikan karakter dan pencegahan perundungan secara berkelanjutan.
Abstract: Schools play a pivotal role in fostering students’ character development, social competencies, and academic achievement. Nevertheless, bullying remains a significant challenge to establishing a safe, inclusive, and child-friendly educational environment. This community engagement program aimed to promote a safe school environment, student well-being, and improved academic achievement through anti-bullying education at SMAN 2 Praya, Central Lombok, Indonesia. The target institution comprises approximately 757 students. The program was implemented as part of the school’s regular Islamic spiritual development activities (IMTAK), targeting students participating in the session. The program employed educational, participatory, preventive, and reflective approaches through several stages, including preparation, instructional material development, educational outreach, interactive discussions, case studies, reflection, simulations of appropriate responses to bullying, and evaluation. Data were collected through observation, documentation, student reflections, and feedback from school stakeholders. The findings indicated enhanced student understanding of verbal, physical, social, and cyberbullying, including their implications for psychological well-being, interpersonal relationships, and learning processes. The participatory activities also helped students distinguish between joking, interpersonal conflict, and bullying, while encouraging them to report incidents and actively engage in prevention efforts. The findings further underscore the importance of collaboration among school principals, teachers, guidance and counseling personnel, students, parents, and the broader school community in fostering a safe school climate. Therefore, anti-bullying education represents a promising strategy for strengthening character education and promoting sustainable bullying prevention.






