Peningkatan Literasi Keamanan Siber dan Perlindungan Data Digital bagi Masyarakat Desa Klambir Lima Kebun
DOI:
https://doi.org/10.67548/jocepass.v1i3.290Keywords:
Literasi Digital, Keamanan Siber, Perlindungan Data, Masyarakat Desa, Pengabdian Masyarakat, Community Service, Rural Community, Data Protection, Cyber Security, Digital LiteracyAbstract
Abstrak: Perkembangan teknologi digital mendorong masyarakat desa semakin aktif menggunakan telepon pintar, media sosial, aplikasi pesan, dan layanan daring, tetapi pemanfaatan tersebut belum selalu diikuti pemahaman yang memadai tentang keamanan data pribadi. Mitra sasaran kegiatan adalah Pemerintah Desa Klambir Lima Kebun dengan peserta sebanyak 16 orang yang terdiri atas perangkat desa, pelaku usaha kecil, pemuda, dan masyarakat umum. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman peserta mengenai ancaman siber, perlindungan data pribadi, penggunaan kata sandi yang aman, verifikasi dua langkah, serta pengenalan pesan dan tautan mencurigakan. Pelaksanaan menggunakan pendekatan edukatif dan partisipatif melalui sosialisasi interaktif, ceramah singkat, diskusi, tanya jawab, dan simulasi kasus. Evaluasi dilakukan secara formatif melalui pengamatan partisipasi, tanya jawab, diskusi reflektif, dan identifikasi contoh pesan penipuan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa peserta memahami pentingnya menjaga kerahasiaan data pribadi, tidak membagikan kode OTP, menggunakan kata sandi yang kuat dan berbeda, mengaktifkan pengamanan tambahan, serta memverifikasi pesan sebelum membuka tautan atau memberikan informasi. Kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi berbasis contoh nyata dan bahasa sederhana relevan untuk membangun kebiasaan digital yang lebih aman pada masyarakat non-teknis, meskipun perubahan perilaku jangka panjang masih memerlukan pendampingan dan evaluasi lanjutan.
Abstract: The growing use of digital technology has encouraged rural communities to rely more on smartphones, social media, messaging applications, and online services; however, this use is not always accompanied by adequate knowledge of personal data security. The target partner was the Government of Klambir Lima Kebun Village, involving 16 participants consisting of village officials, small-business actors, youth, and community members. This community service activity aimed to improve participants' understanding of cyber threats, personal data protection, secure password practices, two-step verification, and the identification of suspicious messages and links. The activity employed an educational and participatory approach through interactive outreach, short lectures, discussions, question-and-answer sessions, and case simulations. Formative evaluation was conducted through observation of participation, reflective discussion, questions, and exercises to identify fraudulent messages. The evaluation indicated that participants understood the importance of protecting personal data, never sharing one-time passwords, using strong and different passwords, enabling additional account protection, and verifying messages before opening links or disclosing information. These findings suggest that education using real-life examples and accessible language is relevant for developing safer digital habits among non-technical communities, although long-term behavioral change requires further mentoring and evaluation.






